Minggu, 28 April 2013

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM IMMUNITAS HIV / AIDS



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
AIDS dapat diartikan sebagai sindrom dengan gejala penyakit infeksi opotunistik/ kanker tertentu akibat penurunan system kekebalan tubuh oleh infeksi HIV.
Jumlah orang yang terinfeksi HIV AIDS di Indonesia belum dapat dipastikan. Terdapat dua pendapat yaitu pendapat  yang mengemukakan infeksi HIV di Indonesia sudah mengkhawatirkan dan mereka memperkirakan sudah lebih dari beribu orang yang terinfeksi HIV. Pendapat lain yang lebih optimis beranggapan infeksi di Indonesia berjalan lambat.

B.       Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah yaitu :
1.         Jelaskan Defenisi dan Etiologi HIV / AIDS ?
2.         Jelaskan Manifestasi Klinis dan Patofisiologi HIV / AIDS ?
3.         Jelaskan Penatalaksanaan dan Komplikasi HIV / AIDS ?
4.         Jelaskan Konsep Asuhan Keperawatan pada Klien HIV / AIDS ?

C.      Tujuan Penulisan
Adapun maksud dan tujuan kami menyusun makalah ini yaitu :
1.      Menjelaskan Defenisi dan Etiologi HIV / AIDS.
2.      Menjelaskan Manifestasi Klinis dan Patofisiologi HIV / AIDS.
3.      Menjelaskan Penatalaksanaan dan Komplikasi HIV / AIDS.
4.      Menjelaskan Konsep Asuhan Keperawatan pada Klien HIV / AIDS.

D.      Manfaat Hasil Penulisan
Adapun harapan kami dengan adanya hasil penulisan makalah ini mudah-mudahan bisa berguna sebagai berikut :
1.         Bahan pelajaran bagi Mahasiswa Poltekes Makassar.
2.         Bahan bacaan di perpustakaan Poltekes Makassar.
3.         Pengalaman berharga bagi penyusun.
4.         Sebagai bahan masukan bagi Mahasiswa yang ingin lebih memahami materi tentang Asuhan Keperawatan HIV / AIDS.



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Defenisi HIV / AIDS
HIV ( Human Immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang menyerang system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif lama dapat menyebabkan AIDS. Sedangkan AIDS sendiri adalah suatu sindroma  penyakit yang muncul secara kompleks  dalam waktu relatif lama karena penurunan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV.
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan terjadinya defisiensi tersebut sepertii keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya ( Rampengan & Laurentz ,1997 : 171).
AIDS adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV yang di tandai dengan menurunnya system kekebalan tubuh sehingga pasien AIDS mudah diserang oleh infeksi oportunistik dan kanker. ( Djauzi dan Djoerban,2003).
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi human immunodetciency virus HIV. (Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare).
AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( Center For Disease Control And Prevention).
Kerusakan progresif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA ( Orang Dengan HIV /AIDS ) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal.

B.  Etiologi
Penyebab AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) yakni sejenis virus RNA yang tergolong retrovirus. Dasar utama penyakit infeksi HIV ialah berkurangnya jenis sel darah putih (Limfosit T helper) yang mengandung marker CD4 (Sel T4). Limfosit T4 mempunyai pusat dan sel utama yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menginduksi kebanyakan fungsi-fungsi kekebalan, sehingga kelainan-kelainan fungsional pada sel T4 akan menimbulkan tanda-tanda gangguan respon kekebalan tubuh. Setelah HIV memasuki tubuh seseorang, HIV dapat diperoleh dari limfosit terutama limfosit T4, monosit, sel glia, makrofag dan cairan otak penderita AIDS.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1.         Periode jendela : Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala.
2.         Fase infeksi HIV primer akut : Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness.
3.         Infeksi asimtomatik : Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
4.         Supresi imun simtomatik : Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari, BB menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.
5.         AIDS : Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system tubuh, dan manifestasi neurologist.
HIV dapat ditemukan pada semua cairan tubuh penderita, tetapi yang terbukti penularannya adalah melalui darah, air mani dan cairan serviks/vagina saja. Cara penularan HIV/AIDS ini dapat melalui :
1.         Hubungan seksual
2.         Penerimaan darah atau produk darah melalui transfusi darah
3.         Penggunaan alat suntik, alat medis dan alat tusuk lain (tato, tindik, akupuntur, dll.) yang tidak steril
4.         Penerimaan organ, jaringan atau air mani
5.         Penularan dari ibu hamil kepada janin yang dinkandungnya.
6.         Sampai saat ini belum terbukti penularan melalui gigitan serangga, minuman, makanan atau kontak biasa dalam keluarga, sekolah, kolam renang, WC umum atau tempat kerja dengan penderita AIDS.
C.  Manifestasi Klinis
Adanya HIV dalam tubuh seseorang tidak dapat dilihat dari penampilan luar. Orang yang terinfeksi tidak akan menunjukan gejala apapun dalam jangka waktu yang relatif lama (±7-10 tahun) setelah tertular HIV. Masa ini disebut masa laten. Orang tersebut masih tetap sehat dan bisa bekerja sebagaimana biasanya walaupun darahnya mengandung HIV. Masa inilah yang mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat, karena orang terinfeksi secara tidak disadari dapat menularkan kepada yang lainnya. Dari masa laten kemudian masuk ke keadaan AIDS dengan gejala sebagai berikut:
Gejala Mayor:
1.    Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
2.    Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
3.    Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
4.    Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
5.    Demensia/ HIV ensefalopati
Gejala Minor:
1.    Batuk menetap lebih dari 1 bulan
2.    Dermatitis generalisata
3.    Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang
4.    Kandidias orofaringeal
5.    Herpes simpleks kronis progresif
6.    Limfadenopati generalisata
7.    Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
8.    Retinitis virus sitomegalo
Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala AIDS:
1.    Tahap 1: Periode Jendela
a)        HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah
b)        Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
c)        Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
d)       Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu – 6 bulan
2.    Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun
a)        HIV berkembang biak dalam tubuh
b)        Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
c)        Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV
d)       Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)
3.    Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)
a)        Sistem kekebalan tubuh semakin turun
b)        Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll
c)        Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya
4.    Tahap 4: AIDS
a)        Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
b)        Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah
D.   Patofisiologi
Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.
Virus HIV dengan suatu enzim, reverse transkriptase, yang akan melakukan pemograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA. DNA ini akan disatukan kedalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen. Enzim inilah yang membuat sel T4 helper tidak dapat mengenali virus HIV sebagai antigen. Sehingga keberadaan virus HIV didalam tubuh tidak dihancurkan oleh sel T4 helper. Kebalikannya, virus HIV yang menghancurkan sel T4 helper. Fungsi dari sel T4 helper adalah mengenali antigen yang asing, mengaktifkan limfosit B yang memproduksi antibodi, menstimulasi limfosit T sitotoksit, memproduksi limfokin, dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi sel T4 helper terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan penyakit yang serius.
Dengan menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.
Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS.
E.   Penatalaksanaan
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan rumusan ABCDE yaitu:
1.    A= Abstinence, tidak melakukan hubungan seksual atau tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah
2.    B = Being faithful, setia pada satu pasangan, atau menghindari berganti-ganti pasangan seksual
3.    C = Condom, bagi yang beresiko dianjurkan selalu menggunakan kondom secara benar selama berhubungan seksual
4.    D = Drugs injection, jangan menggunakan obat (Narkoba) suntik dengan jarum tidak steril atau digunakan secara bergantian
5.    E = Education, pendidikan dan penyuluhan kesehatan tentang hal-hal yang berkaitan dengan HIV/AIDS
Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka pengendaliannya yaitu:
a)        Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik,nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.
b)    Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3.
c)    Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
·           Didanosine
·           Ribavirin
·           Diedoxycytidine
·           Recombinant CD 4 dapat larut
d)    Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
·         Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.
·         Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).


F.   Komplikasi
1.    Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
2.  Neurologik
·           Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.
·           Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
·           Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.
·           Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)
3.  Gastrointestinal
·           Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma   Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
·           Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
·           Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.
4.  Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.
5.  Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
6.  Sensorik
·           Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
·           Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.

G.   Pemeriksaan Penunjang
1.    Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
·         ELISA
·         Western blot
·         P24 antigen test
·         Kultur HIV
2.   Tes untuk deteksi gangguan system imun :
·         Hematokrit.
·         LED
·         CD4 limfosit
·         Rasio CD4/CD limfosit
·         Serum mikroglobulin B2
·         Hemoglobulin


BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HIV / AIDS
A.      Pengkajian
1.        Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :
a)        Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )
Terapiradiasi, defisiensinutrisi, penuaan, aplasiatimik, limpoma, kortikosteroid, globulin anti limfosit, disfungsi timik congenital.
b)    Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)
Limfositik leukemia kronis, mieloma, hipogamaglobulemia congenital, protein – liosing enteropati (peradangan usus)
2.    Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)
·      Aktifitas / Istirahat
Gejala            : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.
Tanda              : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas (Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).
·      Sirkulasi
Gejala            : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.
Tanda              : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.
·      Integritas dan Ego
Gejala             : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan, mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya.
Tanda            : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.
·      Eliminasi
Gejala             : Diare intermitten, terus – menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi.
Tanda              : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan karakteristik urine.
·      Makanan / Cairan
Gejala            : Anoreksia, mual muntah, disfagia.
Tanda              : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema
·      Hygiene
Gejala            : Tidak dapat menyelesaikan AKS.
Tanda            : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
·      Neurosensori
Gejala             : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.
Tanda              : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.
·      Nyeri / Kenyamanan
Gejala            : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.
Tanda              : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan gerak,pincang.
·      Pernafasan
Gejala             : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.
Tanda            : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.
·      Keamanan
Gejala             : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit defisiensi imun, demam berulang,berkeringat malam.
Tanda              : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.
·      Seksualitas
Gejala             : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi, menurunnya libido, penggunaan pil pencegah kehamilan.
Tanda            : Kehamilan,herpes genetalia
·      Interaksi Sosial
Gejala             : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya trauma AIDS
Tanda            : Perubahan interaksi
·      Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala             : Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko tinggi, penyalahgunaan obat-obatan IV, merokok, alkoholik.
B.   Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem imunologis HIV / AIDS adalah:
1.         Resiko tinggi terhadap infeksi b/d pertahanan primer tidak efektif
2.         Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d kehilangan yang berlebihan, diare berat
3.         Resiko tinggi terhadap tidak efektifnya pola nafas b/d ketidakseimbangan muscular
4.         Resiko tinggi terhadap perubahan faktor pembekuan b/d penurunan absorpsi VitaminK
5.         Perubahan nutrisi kurang dari tubuh b/d perubahan pada kemampuan untuk mencerna b/d penurunan berat badan
6.         Nyeri kronik b/d inflamasi, keluhan nyeri
7.         Kerusakan integritas kulit b/d efisit imunologi, lesi kulit
8.         Perubahan membran mukosa oral b/d defisit imunologi, candidiasis
9.         Kelelahan b/d perubahan produksi energi metabolisme, kekurangan energi
10.     Perubahan proses pikir b/d hipoksemia, perubahan lapang perhatian
11.     Ansietas b/d ancaman pada konsep pribadi, peningkatan tegangan
12.     Isolasi sosial b/d perubahan status kesehatan, perasaan ditolak
13.     Ketidakberdayaan b/d perubahan pada bentuk tubuh, bergantung pada orang lain untuk perawatan
14.     Kurang pengetahuan mengenai penyakit b/d tidak mengenal sumber informasi, permintaan informasi
C.    Perencanaan Keperawatan.
Dx
Kriteria Hasil
Intervensi
Rasionalisasi
1
Mengidentifikasi / ikut serta dalam perilaku yang megurangi resiko infeksi mencapai masa penyembuhan luka / lesi tidak demam dan bebas dari pengeluaran / sekresi purulen dan tanda-tanda lain dari kondisi infeksi
a)     Cuci tangan sebelum dan sesudah seluruh kontak perawatan dilakukan instruksikan pasien / orang terdekat untuk mencuci tangan sesuai indikasi
b)    Berikan lingkungan yang bersih dan berventilasi baik periksa pengunjung / staf terhadap tanda infeksi dan mempertahankan kewaspadaan sesuai indikasi

c)     Diskusikan tingkat dan rasional isolasi pencegahan dan mempertahankan kesehatan pribadi

d)    Pantau tanda-tanda vital termasuk suhu













e)     Bersihkan kulit / membran mukosa oral terdapat bercak putih / lesi




f)     Periksa adanya luka / lokasi alat infasif,perhatikan tanda-tanda inflamasi / infeksi lokal


g)    Bersihkan percikan cairan tubuh / darah dengan larutan pemutih 1 : 10
-   Mengurangi resiko  terkontaminasi silang


-   Mengurangi patogen pada sistem imun dan mengurangi kemungkinan pasien mengalami infeksi nosokomial
-   Meningkatkan kerja sama dengan cara hidup dan berusaha mengurangi rasa terisolasi
-   Memberikan informasi dasar awitan / peningkatan suhu secara berulang-ulang dari demam yang terjadi untuk menunjukkan bahwa tubuh bereaksi pada proses infeksi yang baru dimana obat tidak lagi dapat secara efektif mengontrol infeksi yang tidak dapat disembuhkan
-   Kandidiasis oral, herpes, CMV dan crytocolus adalah penyakit yang umum terjadi dan memberikan efek pada membran kulit
-   Identifikasi / perawatan awal dari infeksi sekunder dapat mencegah terjadinya sepsis
-   Mengontrol mikro organisme pada permukaan keras
2
Mempertahankan hidrasi dibuktikan oleh membran mukosa lembab, turgor kulit baik, haluaran urine adekuat secara pribadi
a)     Pantau tanda-tanda vital termasuk CVP, bila terpasang, catata hipertensi termasuk perubahan postural
b)    Kaji turgor kulit, membran mukosa dan rasa haus

c)     Pantau pemasukan oral dan masukan cairan sedikitnya 2500 ml / hari
-    Indikator dari volume cairan sirkulasi

-    Indikator tidak langsung dari status cairan

-    Mempertahankan keseimbangan cairan, mengurangi rasa haus, dan melembabakan membran mukosa
3
Mempertahankan pola pernapasan efektif membran mukosa tidak mengalami sesak nafas / sianosis dengan bunyi nafas dan sinar x bagian dada yang bersih / meningkat dan AGD dalam batas normal pasien
a)     Tinggikan kepala tempat tidur usahakan pasien untuk berbalik, batuk, menarik nafas sesuai kebutuhan



b)    Selidiki tentang keluhan nyeri dada





c)     Berikan periode istirahat yang cukup diantara waktu aktivitas pertahankan lingkungan yang tenang
-      Meningkatkan fungsi pernafasan yang optimal dan mengurangi aspirasi / infeksi yang ditimbulkan karena atelektasis
-      Nyeri dada pleuritis dapat menggambarkan adanya pnemonia non spesifik / efusi pleura berkenaan dengan keganasan
-      Menurunkan konsumsi O2
4
Menunjukkan homosatis yang ditunjukkan dengan tidak adanya perdarahan mukosa dan bebas dari ekimosis
a)    Lakukan pemeriksaan darah pada cairan tubuh untuk mengetahui adanya darah pada urine, feses dan cairan muntah




b)   Pantau perubahan tanda-tanda vital dan warna kulit




c)    Pantau perubahan tingkat kesadaran dan gangguan penglihatan
-       Mempercepat deteksi adanya perdarahan / penentuan awal dari therapi mungkin dapat mencegah perdarahan kritis
-       Timbulnya perdarahan / hemoragi dapat menunjukkan kegagalan sirkulasi / syok
-       Perubahan dapat menunjukkan adanya perdarahan otak
5
Mempertahankan BB atau memperlihatkan peningkatan BB yang mengacu pada tujuan yang diinginkan
a)    Kaji kemampuan untuk mengunyah, merasakan dan menelan









b)   Timbang BB sesuai kebutuhan, evaluasi BB dalam hal adanya BB yang tidak sesuai. Gunakan serangkaian pengukuran BB dan antropometrik
c)    Jadwalkan obat-obatan diantara makan dan batasi pemasukan cairan dengan makanan, kecuali jika cairan memiliki nilai gizi


d)   Dorong pasien untuk duduk pada waktu makan


e)    Catat pemasukan kalori
-       Lesi mulut, tenggorokan, dan esofagus dapat menyebabkan dispagia, penurunan kemampuan pasien untuk mengolah makanan dan mengurangi keinginan untuk makan
-       Indikator kebutuhan nutrisi / pemasukan yang adekuat

-       Lambung yang penuh akan mengurangi nafsu makan dan pemasukan makanan
-       Mempermudah proses menelan dan mengurangi resiko aspirasi
-       Mengidentifikasi kebutuhan terhadap suplemen atau alternatif metode pemberian makanan
6
Keluhan hilangnya / terkontrolnya rasa sakit
a)    Kaji keluhan yeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 1 – 10), frekuensi dan waktu menandai gejala non verbal


b)   Dorong pengungkapan perasaan





c)    Lakukan tindakan pariatif mis: pengubahan posisi, masase, rentang gerak pada sendi yang sakit
d)   Berikan kompres hangat / lembab pada sisi infeksi pentamidin / IV selama 20 menit setelah pemberian
-        Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda-tanda perkembangan / resolusi komplikasi
-        Dapat mengurangi ansietas dan rasa takut, sehingga mengurangi persepsi akan intensitas rasa sakit
-        Meningkatkan relaksasi / menurunka tegangan otot
-        Infeksi diketahui sebagai penyebab rasa sakit dan abses steril
7
Menunjukkan tingkah laku / teknik untuk mencegah kerusakan kulit / meningkatkan kesembuhan
a)     Kaji kulit setiap hari, catat warna, turgor, sirkulasi dan sensasi. Gambarkan lesi dan amati perubahan




b)    Pertahankan sprei bersih, kering dan tidak berkerut






c)     Tutupi luka tekan yang terbuka dengan pembalut yang steril atau barrier produktif
-        Menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat
-        Friksi kulit disebabkan oleh kain yang berkerut dan basah yang menyebabkan iritasi dan potensial terhadap infeksi
-        Dapat mengurangi kontaminasi bakteri, meningkatkan proses penyembuhan
8
Menunjukkan membran mukosa utuh, berwarna merah jambu, basah dan bebas dari inflamasi / ulserasi
a)    Kaji membran mukosa / catat seluruh lesi oral. Perhatikan keluhan nyeri, bengkak, sulit mengunyah / menelan




b)   Berikan perawatan oral setiap hari dan setelah makan, gunakan sikat gigi halus, pasta sisi non abrasif, obat pencuci mulut non alkohol dan pelembab bibir





c)    Cuci lesi mukosa oral dengan menggunakan hidrogen peroksida / salin atau larutan soda kue



d)   Anjurkan permen karet / permen tidak mengandung gula



e)    Dorong pasien untuk tidak merokok
-        Edema, lesi, membran mukosa oral dan tenggorok kering menyebabkan rasa sakit dan sulit mengunyah / menelan
-        Mengurangi rasa tidak nyaman, meningkatkan rasa sehat dan mencegah pembentukan asam yang dikaitkan dengan partikel makanan yang tertinggal
-        Mengurangi penyebaran lesi dan krustasi dari kandidiasis dan meningkatkan kenyamanan
-        Merangsang saliva untuk menetralkan asam dan melindungi membran mukosa
-        Rokok akan mengeringkan dan mengiritasi membran mukosa
9
Melaporkan peningkatan energi
a)    Kaji pola tidur dan catat perubahan dalam proses berpikir / perilaku







b)   Rencanakan perawatan untuk menyediakan fase istirahat. Atur aktivitas pada waktu pasien sagat berenergi. Ikut sertakan pasien / orang terdekat pada penyusunan rencana








c)    Tetapkan keberhasilan aktivitas yang realitas dengan pasien
-       Berbagai faktor dapat meningkatkan kelelahan, termasuk kurang tidur, penyakit ssp, tekanan emosi dan efek samping obat-obatan / kemoterapi
-       Periode istirahat yang sering sangat dibutuhkan dalam memperbaiki / menghemat energi. Perencanaan akan membuat pasien menjadi aktif pada waktu dimana tingkat energi lebih tinggi, sehingga dapat memperbaiki perasaan sehat dan kontrol diri
-       Mengusahakan kontrol diri dan perasaan berhasil, mencegah timbulnya perasaan frustasi akibat kelelahan karena aktivitas berlebihan
10
Mempertahankan orientasi realita umum dan fungsi kognitif optimal
a)    Kaji status mental dan neurologis dengan menggunakan alat yang sesuai. Catat perubahan orientasi, respon terhadap rangsang, kemampuan untuk mencegah masalah, ansietas, perubahan pola tidur, halusinasi dan ide paranoid











b)   Pantau adanya tanda-tanda infeksi ssp, mis: sakit kepala, kekakuan nukal, muntah, demam













c)    Susun batasan pada perilaku mal adaptif / menyiksa, hindari pilihan pertanyaan terbuka

d)   Diskusikan penyebab / harapan di masa depan dan perawatan jika demensia telah terdiagnosa. Gunakan istilah yang kongkret
-         Menetapkan tingkat fungsional pada waktu penerimaan dan mewaspadakan perawat pada perubahan status yang dapat dihubungkan dengan infeksi / kemungkinan penyakit ssp yang makin buruk, stressor lingkungan, tekanan fisiologis, efek samping terapi obat-obatan
-         Gejala ssp dihubungkan dengan meningitis / ensefalitis diseminata mungkin memiliki jangkauan dari perubahan kepribadian yang tidak kelihatan sampai kekacauan mental, peka rangsangan, mengantuk, pingsan, kejang dan demensia
-         Memberikan waktu tidur, emngurangi gejala kognitif dan kurang tidur
-         Mendapatkan informasi bahwa A2T telah muncul untuk memperbaiki kognisi dapat memberikan harapan dan kontrol terhadap kehilangan
11
Menyatakan kesadaran tentang perasaan dan cara sehat untuk menghadapinya
a)     Jamin pasien tentang kerahasiaan dalam batasan situasi tertentu







b)    Berikan informasi akurat dan konsiste mengenai prognosis, hindari argumentasi mengenai persepsi pasien terhadap situasi tersebut


c)     Berikan lingkungan terbuka dimana pasien akan merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menahan diri untuk berbicara





d)    Berikan informasi yang dapat dipercaya dan konsisten, juga dukungan untuk orang terdekat
-        Memberikan penentraman hati lebih lanjut dan kesempatan bagi pasien untuk memecahkan masalah pada situasi yang diantisipasi
-        Dapat mengurangi ansietas dan ketidakmampuan pasien untuk membuat keputusan / pilihan berdasarkan realita
-        Membantu pasien untuk merasa diterima pada kondisi sekarang tanpa perasaan dihakimi dan meningkatkan perasaan harga diri dan kontrol
-        Menciptakan interaksi personal yang lebih baik dan menurunkan ansietas dan rasa takut
12
Menunjukkan peningkatan perasaan harga diri
a)    Tentukan persepsi pasien tentang situasi




b)   Batasi / hindari penggunaan masker, baju dan sarung tangan jika memungkinkan mis: jika berbicara dengan pasien





c)    Dorong kunjungan terbuka, hubungan telepon dan aktivitas sosial dalam tingkat yang memungkinkan
d)   Dorong adanya hubungan yang aktif dengan orang terdekat
-        Isolasi sebagian dapat mempengaruhi diri saat pasien takut penolakan / reaksi orang lain
-        Mengurangi perasaan pasien akan isolasi fisik dan menciptakan hubungan sosial yang positif yang dapat meningkatkan rasa percaya diri
-        Partisipasi orang lain dapat meningkatkan rasa kebersamaan
-        Membantu menetapkan partisipasi pada hubungan sosial dapat mengurangi kemungkinan upaya bunuh diri
13
Menyatakan perasaan dan cara yang sehat untuk berhubungan dengan mereka
a)     Kaji tingkat perasaan tidak berdaya, mis: ekspresi verbal / non verbal yang mengindikasikan kurang kontrol, efek daftar kurangnya komunikasi



b)    Dorong peran aktif pada perencanaan aktivitas, menetapkan keberhasilan harian, yang realitas / dapat dicapai dorong kontrol pasien dan tanggung jawab sebanyak mungkin, identifikasi hal-hal yang dapat dan tidak dapat dikontrol pasien
-         Menentukan status individual pasien dan mengusahakan intervensi yang sesuai pada waktu pasien imobilisasi karena perasaan depresi
-         Memungkinkan peningkatan perasaan kontrol dan menghargai diri sendiri dan tanggung jawab
14
Mengungkapkan pemahamannya tentang kondisi / proses dan perawatan dari penyakit tertentu
a)    Tinjau ulang proses penyakit dan apa yang menjadi harapan di masa depan




b)   Tinjau ulang cara penularan penyakit




c)    Berikan informasi mengenai penatalaksanaan gejala yang melengkapi aturan medis, mis: pada diare intermiten, gunakan lomotil sebelum pergi kegitan sosial
d)   Tekankan perlunya melajutkan perawatan kesehatan dan evaluasi





e)    Identifikasi sumber-sumber komunitas, mis: rumah sakit / pusat perawatan tempat tinggal (bila ada)
-          Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi
-          Mengoreksi mitos dan kesalahan konsepsi, meningkatkan keamanan bagi pasien / orang lain
-          Memberikan pasien kontrol mengurangi resiko rasa malu dan meningkatkan kenyamanan
-          Memberi kesempatan untuk mengubah aturan untuk memenuhi kebutuhan perubahan / individual
-          Memudahkan pemindahan dari lingkungan perawatan akut, mendukung pemulihan dengan kemandirian



 
Keperawatan Medikal Bedah

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN GANGGUAN SISTEM IMMUNITAS
HIV / AIDS


 


DISUSUN OLEH :
KELOMPOK V
BUDIYONO                                        MI’RAJ NURMANSADA
IDUL FITRIADI                                  A S B I A N
AMALIA RAMDHANI AMRAH         HERAWATI
H U S N I                                          BAYU KASMIRAN ISMAIL
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
PRODI KEPERAWATAN PAREPARE
TAHUN AKADEMIK 2013 / 2014




BAB IV
PENUTUP

A.      Kesimpulan
HIV adalah suatu virus yang hidup dalam tubuh manusia, dan dan dapat menyebabkan timbulnya AIDS, yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah terserang penyakit dan lam kelamaan akan meninggal, sudah menjadi sifat manusia yang selalu ingin merasakan kenikmanatan tanpa mempedulikan akibatnya, misalnya : melakukan perzinahan, penggunaan narkotika suntikan, dan sebagainya. Kits umat manusia sudah mengetahui bahwa perbuatan-perbuatan tersebut sangat dilarang,baik menurut ajaran agama masing-masing maupun aturan hukum yang berlaku. Tetapi dari sebagian kita tetap saja melakukan hal-hal tersebut, misalnya : WTS, Homoseks,Biseks, Mucikari, dan orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual diluar nikah. Dan berbahaya, dan sampai saat ini belum ditemukan obatnya.
Adapun gejala-gejala yang dapat kita lihatpada penderita AIDS yaitu demam yang berkepanjangan di sertai keringat malam, batuk dan sariwan yang terus menerus,berat badan turun dengan drastis, dsb, yang akan di akhiri dengan kematian.
AIDS merupakan cobaan atau bahkan hukuman daru Tuhan,yang tidak pernah di duga oleh umat manusia.

B.       Saran
a)        Hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berusaha menghindarkan diri dari hal-hal yang bisa menyebabkan AIDS.
b)        Bagi para generasi muda, jauhilah obat-obatan terlarang terutama narkotika melalui alat suntik, alat-alat tato, anting tindik, dan semacamnya yang bisa saja menularkan AIDS, karena alat-alat aeperti itu tidak ada gunanya.dan hindarkan diri dari pergaulan bebas yang bersifat negatif.
c)        Apabila ada seminar-seminar, penyuluhan-penyuluhan, iklan ataupun brosur-brosur, yang mengimpormasikan tentang AIDS, sebaiknya kita memperhatikan dengan baik, agar segala sesuatu tentang AIDS dapat diketahui, sehingga kita bisa menghindarkan diri sejak dini dari AIDS.
DAFTAR PUSTAKA

Doenges Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta, 2000.
Suzanne C Smeltzer, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta, 2001.
Djausi, Samsu Rizal. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ketiga. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Duarsa, N. Wirya. 2003. Penyakit Menular seksual  Edisi kedua. Jakarta :FKUI

Website :
http://pphipkabi.org

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini